“saya memang ikut mogok kerja agar upah kami naik mba, hanya itu yang saya tau saya tidak pernah tau kalo resikonya saya harus di PHK..kehilangan pekerjaan….dan harus melalui proses yang begitu panjang seperti ini” ungkapan seorang buruh di PHI bandung

Hmmmm akhir-akhir ini persoalan mogok kerja dengan segala akibat yang ditanggung teman-teman buruh ini menjadi beban yang teramat dalam bagi saya. Bahkan sedikit berlebihan sampai masuk kedalam mimpi-mimpi dalam tidur saya. Bagaimana tidak masuk kedalam mimpi jika akibat mogok kerja yang dilakukan kawan-kawan buruh selalu berakhir dengan PHK puluhan bahkan ratusan buruh. Sayangnya kami hanya masuk dan membantu ketika mereka sudah mengalami tindakkan balasan berupa PHK. Jadi wajar jika mendengar ada serikat yang akan melakukan mogok kerja tiba-tiba saya merasa ketakutan yang amat sangat. Takut mereka tidak benar-benar menyusun rencana mogok dengan matang. Takut jika akibatnya mereka harus kehilangan pekerjaan…belum lagi jika harus menghadapi penegakan hukum yang kacau ini. Tapi lebih sedih lagi jika tau bahwa para anggota serikat buruh ini tidak tau apa yang sebenernya sedang mereka perjuangkan dengan melakukan mogok kerja. Bahkan yang meyakitkan bagi saya adalah ketika mereka tidak tau sama sekali apa yang sedang diperjuangkan hanya sekedar ikut apa kata pemimpin serikat, tanpa diberi tahu resiko-resiko terburuk yang akan mereka hadapi. Sampai disini saya mencoba berfikir dengan sangat keras….koq pemimpin jadi seperti penindas ya…bener-bener gak adil, tanpa mengetahui apa tujuan dan apa resikonya tiba-tiba diinstruksikan untuk mengikuti mogok kerja. lalu apa bedanya pemimpin serikat buruh ini dengan pemimpin-pemimpin kapitalis yang biasa mereka kritik mereka demo. Sama-sama penindas menurut saya, mustinya jika akan melakukan mogok kerja musti jelas dong apa tujuannya dan apa resiko yang akan dihadapi bukan asal ngajak saja tanpa anggota tahu apa tujuannya dan apa resikonya. Speechless melihat mereka kehilangan pekerjaan, belum lagi jika mereka tidak kuat dan ingin mengambil kompensasi dikatakan tidak militan…………………………………….. Lalu jadi mikir, saya kemudian hanya sebagai alat dari orang-oarang ambiusius yang rela megorbankan orang lain demi ambisinya???? Jadi bener-bener mikir “pemimpin” memang punya godaan besar untuk menjadi manipulatif dan penindas…..semoga tidak semua pemimpin seperti yang saya kuatirkan ini .

Sudah bulan oktober tak terasa umur sudah bertambah lagi, tapi koq sama sekali belum ada peningkatan secara kualitas pada diriku ya…

Malahan semangat untuk meningkatkan kualitas diri semakin menipis hado-hadoh-hadoh pertanda apakah ini??

Kasus yang menimpa Antasari Azhar cukup mengejutkan, bagaimana tidak, sebagai sosok yang dikenal garang dalam pemberantasan korupsi, tiba-tiba saja terkait dengan kasus pembunuhan berencana dengan motif cinta segitiga. Kecewa sudah pasti sangat kecewa. Tapi saya jadi berfikir apa sih yang tidak bisa terjadi dalam hukum kita, yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah. Tapi apapun itu hasil penyidikan nantinya terhadap kasus ini ada satu hal yang saya cermati.

Dibalik setiap kasus yang melibatkan perempuan lain yang menimpa pejabat selalu ditampilkan sosok istrinya untuk mengkonter bahwa suaminya bersalah main perempuan. Di media tiba-tiba ditampilkan sosok istri yang bersahaja dengan senyuman sibibir plus dibumbui kecupan atau pandangan mesra suaminya yang diduga suka main perempuan. Dalam kamera Tv tersebut diperlihatkan seolah-olah bagaimana bahagianya mereka, diperlihatkan bagaimana tegarnya sanga istri walaupun suami main perempuan.

Padahal kita tidak tahu bagaimana perasaan sesungguhnya sang istri tersebut, hal ini persis saya lihat ketika Antasari dengan mengandeng sang istri memberikan keterangan pada media bahwa dirinya sama sekali tidak terlibat dalam kasus pembunuhan nasrudin apalagi jika dikaitkan dengan cinta segitiga. Saya yakin sang istri tidak setegar apa yang ditampilkan media, sebagai perempuan pastinya syok ketika tau sanga suami main perempuan.

Tapi yah itulah perempuan selalu tegar dan sebagai sosok yang kuat meskipun keberadaannya dijadikan sebagai alat untuk membela diri suaminya yang suka main perempuan.  Ada perempuan kuat dibalik laki-laki yang sukses bukan cuma kata-kata. Tapi itu dapat dilihat dari sosok istri Antasari. Sebagai sesam perempuan saya salut dengan ketegarannya membela suaminya yang suka main perempuan.

Ibu yang sabar yah:)

Ya..ya..ya akhir-akhir ini suasana hatiku bener-bener buruk. Tiba-tiba bosan melakukan rutinitas, bosan sekali jika harus mendampingi klien baik ke mediasi, bipartit maupun jika harus sidang. Kebosanan ku sebenarnya  sangat beralasan, setiap menghadapi pihak disnaker, pengusaha maupun pengadilan selalu saja kutemukan ketidakberpihakan pada buruh. Sinar muka meyepelekan atau bahkan meremehkan kerapkali kutemui. Ughhhhhh sebel sudah pasti, tapi semakin merasa memang kawan-kawan buruh perlu kami untuk posisi tawar minimal dengan kehadiran kami dipihak mereka ada kepercayaan diri bagi mereka. Tapi jika dimasukkan hati sikap berbagai pihak ini pastilah bikin muak banget. Jadi males banget berhadapan dengan mereka.

Tapi semangatku yang mulai mengendur dan rada bosan dengan aktifitas ini mendadak musnah ketika tadi siang pas sidang di PHI jakarta berhadapan langsung dengan sekitar 200 orang buruh korban PHK yang kasusnya kami tangani. Duh gusti sekian ratus orang di PHK tanpa diberikan hak-haknya yang jelas hanya karena mereka aktif diserikatburuh dan membela kawan mereka yang di PHK.

Selama ini ketika mendampingi klien yang jumlahnya banyak, aku selalu tidak pernah berhadapan langsung palingan dengan pengurusnya saja. Tapi tadi langsung bertemu dengan mereka, seneng banget rasanya bisa berguna bagi mereka, bisa membantu mereka walaupun hanya lewat tenaga dan pikiran bukan uang. Terenyuh melihat mereka datang rame-rame ke sidang kemudian membaca sholawat dan sesekali meneriakan “hidup buruh”  sambil menunggu sidang dimulai. Panasnya ruang sidang justeru tak kurasakan berganti kesejukan dihatiku …semnagtku yang hari-hari ini mulai mengendur jadi semacam dicharge ulang.

pelajaran hari ini membuatku semakin yakin dan mantap untuk menekuni dunia advokasi. Ibarat dokter keberadaan kami sangat dibutuhkan terutama bagi kawan-kawan buruh yang tidak mempunyai uang untuk membayar pengacara profit. Jadi teringat novel jhoin grisham yang berjudul pengacara jalanan. Mungkin dari sisi materi bekerja sebagai pengacara disebuah LBH tidak bagus, tapi dari sisi hati sangat membuat tenang dan nyaman.

semangat-semangat

Judul diatas sebenernya cuma alesan siy, sibuk itu alesanku dalem hati kalo mengunjungi blog ini. Rasa bersalah pastinya ada. Dulu waktu membuat blog ini saya berjanji untuk mengisinya setiap saat. Namun hampir sebulan dia mulai terlupakan. laporan penelitian yang musti kelar april ini cukup meyita waktu luang saya. Belum lagi tugas-tugas lainnya. Sebenarnya itu alesan siy biar ga merasa bersalah hehehe

kedua mulai akhir bulan ini saya pindah divisi dari riset ke advokasi:) nah lengkap sudah kemalasan plus kehabisan waktu karena sering tugas keluar kantor.

Tapi semoga minggu depan sudah bisa mulai menulis, ide siy banyak, waktu itu yang susah ngaturnya *duh fida uda deh ga usa banyak alesan ngaku ajah males:)*

Jason Marz
I’m Yours
Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I fell right through the cracks
And now I’m trying to get back
Before the cool done run out
I’ll be giving it my bestest
Nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon it’s again my turn to win some or learn some

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love
Listen to the music of the moment maybe sing with me
I like peaceful melodys
It’s your God-forsaken right to be loved love loved love love

So I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

I’ve been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
But my breath fogged up the glass
And so I drew a new face and laughed
I guess what I’m saying is there ain’t no better reason
To rid yourself of vanity and just go with the seasons
It’s what we aim to do
Our name is our virtue

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

Well no no, well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love love
Listen to the music of the moment come and dance with me
I like one big family (2nd time: I like happy family)
It’s your God-forsaken right to be loved love love love

I won’t hesitate no more
Oh no more no more no more

Seri hilangnya mobil marina

Rasanya seperti mimpi menghadapi kenyataan mobil marina yang selama ini kami naiki untuk mencari data kesana kemari tiba-tiba lenyap dari tempatnya di parkiran halaman perpustakaan nasional kemarin sore sekitar jam 15.10. Kami datang keperpus pagi sekitar jam 10 an hari selasa tanggal 24 Februari 2009 kemarin, dan langsung memarkir mobil diparkiran depan perpusnas, sama sekali tidak kepikiran apapun. Satu yang ada dibenak kami adalah mencari literatur untuk kepentingan penyusunan laporan riset OSH /kesehatan dan keselamatan kerja yang udah hampir satu tahun.

memasuki pintu gerbang perpus kami disambut seorang laki-laki berjanggut yang merupakan tukang parkir disana. Dengan serius si bapak berjanggut yang belakangan diketahui bernama pak Nyardi ini menuliskan nomor mobil. Kami masuk keperpus kira-kira pukul 10 an. Sekitar pukul 15.15 sore kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan mengerjakan laporan di foodcourt plaza semanggi sambil makan karena kami memang belum makan sejak pagi.

Tapi kami cukup lemas ketika sampai ditempat parkir ternyata mobil sudah berganti dengan mobil yang lain. Pertama kami mencoba untuk tenang, meskipun tidak bisa dipungkiri marina mulai panik. (gimana ga panik mobilnya menghilang begitu saja). Kami masih tidak percaya, dalam hati saya berharap semoga salah tempat atau didorong oleh tukang parkir sehingga berpindah tempat. Tapi hampir 20 menit mencari-cari hasilnya tetap nihil dan kesimpulannya tuh mobil “hilang”. Ditengah kepanikan dan kebingungan kami berdua, mendadak banyak banget orang datang dan sok ingin menolong. Ada yang meminta karcis parkir, ada yang meminta STNK. Dalam kondisi bingung seperti itu aku hanya bisa mengingatkan marina untuk tidak memberikan kartu parkir maupun stnk pada siapapun yang mengaku polisi atau petugas security perpusnas.

Sejak pertama masuk perpusnas kami sudah meyimpan cukup banyak keluhan akan pelayanan perpusnas yang sangat mengecewakan. (lih note marina, satu lagi buruknya pelaynaan publik di indonesia).

Rada aneh memang hilangnya niy mobil, dugaan kami pasti ada orang dalam yang terlibat. Logikanya jika petugas pakir benar2 memriksa karcis jika mobil keluar maka, tuh mobil gak kan bisa keluar jika tanpa karcis toh, tapi nyatanya mobil hilang begitu saja.ditengah kebingungan ada yang bertanya dan memastikan bahwa apa benar karcis parkir masih ada atau ada didalam mobil dan keliatan memaksa nanya tuh mobil diasuransikan atau tidak. Untungnya tuh karcis masih ada, jadi gak bisa menyalahkan marina. (Pokoknya banyak yang bikin ribet deh)

Sistem pelaynaan parkirnya memang terbukti buruk, bahkan berdasarkan pengakuan satpam penjaga parkiran, jika tidak punya karcis maka cukup melambaikan tangan saja mobil bisa dengan enaknya keluar. Benar-benar sisitem ya buruk. Makanya bagi anda yang hendak keperpusnas musti hati-hati jika bawa kendaraan sendiri.

Tapi ada satu pengalaman menarik dari semua ini yang saya peroleh. Ditengah kebingungan, kekacauan yang terjadi kami berdua sama-sama lemas tidak bisa mengadvokasi diri sendiri dan sama sekali gak sadar jika biasa mendampingi orang yang bermasalah dengan hukum. Banyak orang yang menawarkan untuk membantu mengantar laporan kekepolisian atau menawarkan menelpon wartawan, ada yang mengaku intel dll. Mereka tidak mengerubungi kami lagi ketika kami bilang kami menunggu “pengacara” kami yang masih di jalan (si dela dan Erick).

Sewaktu menelpon kantor, bos kami mengatakan “kan mereka berdua juga pengacara kenapa masih butuh pengacara?” , kami saat itu bener-bener lemes ga bisa bergaya “pengacara” (apalagi belum punya kartu plus kartu nama tertera satff riset) . Tapi satu yang saya rasakan rasanya begitu tenang ketika mempunyai masalah dengan hukum dan banyak orang membuat ribet, apalagi jika musti berurusan dengan polisi, lalu mengatakan”biar pengacara kami yang mengurus”. Semua jadi diam dan gak ribet. Saya jadi tau rasanya ketika orang yang saya dampingi membutuhkan kami “pengacara” untuk berada disisinya. Ternyata kehadiran “pengacara” cukup menimbulkan efek tenang yahh. (duh si fida mulai ribet niy, mau nulis hilangnya mobil marina atau efek yang ditimbulkan pengacara siy kumat deh gak fokusnya;D)

(Cerita yang lain lagi) Kami berempat aku, marina, dela dan erik sebenarnya emmang gak cocok jadi pengacara atau hakim (duh gimana rick kaenya kamu gak cocok deh jadi hakim hahaha tapi bisa dilatih koq) . Kami gampang bangett kasihan ke orang. Melihat 2 orang satpam yang dipanggil untuk memepertangungjawabkan soal kehilangan itu, kami bener2 gak tega, apalagi melihat si bapak berjanggut itu. Rasanya kasihan banget jika mereka yang dituduh padahal yang sebetulnya salah adalah sistemnya. Jikapun terjadi konspirasi, kurasa mereka hanya menjadi korban saja. (ah semakin bingung mau cerita apa gak focus lagi)

Dibalik penelitian ini banyak kisah yang terjadi, mulai eksternal hardisk yang jatuh dan menghilangkan semua data, kunci kantor hilang, laptopku jatuh, laptop marina rusak, hingga hilangnya mobil marina. Semoga hasilnya bagus sebagaimana perjuangan kami selama ini (lebay mode on), pesannya gak usa bawa kendaraan keperpus dey lebih baik hati-hati saja. (semakin diterusin si fida semakin gak nyambung mendingan disudahi ajah) .

sabar marina sabar yah “badai pasti berlalu” dan penelitian kita tinggal sebulan lagi koq, besok pasti kelar:)

Written 3 hours ago – Comment – Like

Ceritanya sejak kamis kemarin tubuh saya rasanya drop seperti saya ceritakan pada tulisan sebelumnya (akhirnya kerumah sakit juga) . Nah jum’at tubuh saya tidak kuat untuk masuk kerja, makanya saya ambil izin sehari ga ngantor. Tersiksa sudah pasti, saya bener-bener berjanji untuk menjaga kesehatan, selain sakit tidak enak juga mahal pula.
Nah bersamaan dengan itu ketika saya ingin mengerjakan pekerjaan kantor dirumah, ternyata laptop saya juga mulai suka hang dan lemotnya setengah mati. Dududududu kalo cobaan datang yahh barengan ga bisa gentian ajah. Nah sabtunya terpaksa saya musti ketemu teman dan minta benerin tuh laptop, ternyata hardisknya kena virus makanya buat lemot dan hang. Hmmm saya Cuma bisa mengelus dada “sabar fid sabar”. Akhirnya temen saya juga angkat tangan ga bisa bantuin usir tuhh virus alhasil musti ke tokonya untuk minta dibenerin.
Syukurlah dengan tenaga yang pas-pasan saya pergi benerin tuh laptop. Nah saat ini dia udah sehat bisa lagi diajak nulis. Ternyata laptop saya ini sehati, saya sakit dia ikutan sakit
Tapi dibalik ini semua saya yakin ada hikmahnya, saya jadi bisa bersabar dan belajar tenang dan belajar berhati-hati dan tidak ceroboh dan teledor menjaga kesehatan barang milik saya maupun kesehatan saya. Kesehatan mahal harganya.

Mas azam
Itu nama keponakan saya, umurnya 5 tahun sekarang. Sudah hampir 4 bulan saya tidak bertemu. Tadi saya menelpon kakak saya, dia cerita soal mas azam yang bandel disekolahnya, TK 0. Mas azam kata kakak saya belum bisa membaca dan menulis (sebenernya siy wajar wong baru TK 0). “ azam niru aku fid males nulis karena tulisannya jelek, jadi alasan ajah kalo disuruh belajar nulis” kata kakak saya. Pernah kakak saya bertanya “mas azam kenapa males belajar nulis dan baca? “ kata kakak saya. “ bunda meskipun mas azam ga bisa nulis dan baca tapi mas azzam pinter koq” kata azzam.” Lalu gimana orangtau kalo kamu pinter kalo ga bisa baca tulis? “ kata kakak saya. “ ya mas azam bilang ke bu guru kalo mas azam pinter” jwb azzam. Menurut kakak saya azzam sukanya hafalan, cepet banget kalo disuruh hafalan, semua bacaan sholat sudah hafal demikian juga dengan surat2 pendek. Kalo disuruh nulis disekolah selalu pura-pura tangnnya lemes (duh bandelnya nih anak yahh)
Tadi pas azzam saya telpon saya bilang’ mas azam katanya males baca dan nulis ya? Kalo gitu namnya buta huruf loh” kata saya. Tiba-tiba tut..tut..tut ternyata si azzam marah dan tersinggung saya bilang buta huruf telpon ditutup dan dibanting, hehehe mas azam tante kangen kamu.

“asma karena alergi mba” itu jawaban dokter pas aku berobat kerumah sakit tadi. Rada lega juga pas hasil periksa paru-parunya bagus ga ada apa-apa. Trus lebih condong ke asma karena alergi. Sudah hampir sebulan ini aku sering batuk-batuk plus sesak nafas. Padahal sebelum-sebelumnya gak pernah punya riwayat sesak nafas. Riwayat alergi emang ada, alergi ikan laut dulu, gatal-gatal trus biduran gitu kalo makan udang atau kalo udara dingin. Trus mulai 2007 pilek-pilek, mata merah dan batuk, tapi ke dokter THT katanya gpp cuma dikasih rhinofed. Nah sejak 2008 mulai deh selain pilek2 trus batuk2 yang meyesakkan dada, nah awal 2009 mulai sering sesak nafas.

Pertama kupikir biasa saja tidak pernah kuanggap serius apa yang kurasakan, tapi seminggu ini intensitas sesak nafas semakin sering dan rada menganggu aktivitas. Waktu ketemu dengan seorang narasumber yang merupakan dokter dari ikatan dokter kesehatan kerja (IDKI) aku sempat ngobrol dan tanya tentang asma. Menurutnya asma bisa muncul karena keturunan. Jika orangtua atau sodara ada yang punya maka bisa dimungkinkan aku juga bisa punya asma.

Nah berdasarkan keterangan dokter itu, aku semalem menelpon ibu dan kakakku, yapp yang angkat bapak “ya pantes kalo kamu punya sesak nafas wong ibumu dulu sampe terapi segala, kan kamu anaknya ibumu” waduh piye toh pak pernyataannya, ya iayalah anaknya ibu hehehe. Nah pas aku tanya ibu, ibu bilang” iya ibu sewaktu muda pernah sesak nafas sampe dirawat segala, ningmu ana juga pernah dirawat sewaktu kecil, ponakanmu si azam juga” kata ibu menjelaskan. “ah ibu kenapa mewariskan asma siy bukan duit ajah yang banyak” ucapku. Ibu diseberang sana cuma tertawa.

Makanya hari ini pagi-pagi aku sudah pergi ke rumah sakit persahabatan dirawa mangun tepatnya dipoli asma. Deg-degan juga khawatir kalo ternyata asma beneran. Untung poli asma rada sepi jadinya aku bisa ditangani dengan cepat. Setelah di anamnesis (ini yang disebut para koas) aku diharuskan tes paru-paru. Nah tesnya ini aku harus bernafas dan meniup-niup dengan sebuah alat ukur kesehatan paru-paru, hmmm aku gak tau namanya.

Lega rasanya ternyata hasilnya paru-paruku bagus. Kata dokter spesialis parunya aku cuma asma karena alergi, tapi jika tidak segera diobati bisa menjadi asma “mengi” yang nafasnya sampe bunyi. Untungnya aku tak separah itu. Aku bersyukur aku tidak menderita penyakit berbahaya. Cuma alerginya yang cukup tinggi, nahkan rada susah alerginya ama asap rokok trus debu, bau-bauan menyengat (jadi yang merasa bau jangan dekat2 yah:p)

Tapi bulan depan musti periksa darah plus ke poli jantung, yaaa semua belum berakhir, masih saja harus mengunjungi rumah sakit yang sangat kubenci:).

Pesan: yang belum menderuta sakit, jaga kesehatan, sakit selain tidak enak juga mahal bo’

Jakarta 12 Februari 2008:)