Seri hilangnya mobil marina
Rasanya seperti mimpi menghadapi kenyataan mobil marina yang selama ini kami naiki untuk mencari data kesana kemari tiba-tiba lenyap dari tempatnya di parkiran halaman perpustakaan nasional kemarin sore sekitar jam 15.10. Kami datang keperpus pagi sekitar jam 10 an hari selasa tanggal 24 Februari 2009 kemarin, dan langsung memarkir mobil diparkiran depan perpusnas, sama sekali tidak kepikiran apapun. Satu yang ada dibenak kami adalah mencari literatur untuk kepentingan penyusunan laporan riset OSH /kesehatan dan keselamatan kerja yang udah hampir satu tahun.
memasuki pintu gerbang perpus kami disambut seorang laki-laki berjanggut yang merupakan tukang parkir disana. Dengan serius si bapak berjanggut yang belakangan diketahui bernama pak Nyardi ini menuliskan nomor mobil. Kami masuk keperpus kira-kira pukul 10 an. Sekitar pukul 15.15 sore kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan mengerjakan laporan di foodcourt plaza semanggi sambil makan karena kami memang belum makan sejak pagi.
Tapi kami cukup lemas ketika sampai ditempat parkir ternyata mobil sudah berganti dengan mobil yang lain. Pertama kami mencoba untuk tenang, meskipun tidak bisa dipungkiri marina mulai panik. (gimana ga panik mobilnya menghilang begitu saja). Kami masih tidak percaya, dalam hati saya berharap semoga salah tempat atau didorong oleh tukang parkir sehingga berpindah tempat. Tapi hampir 20 menit mencari-cari hasilnya tetap nihil dan kesimpulannya tuh mobil “hilang”. Ditengah kepanikan dan kebingungan kami berdua, mendadak banyak banget orang datang dan sok ingin menolong. Ada yang meminta karcis parkir, ada yang meminta STNK. Dalam kondisi bingung seperti itu aku hanya bisa mengingatkan marina untuk tidak memberikan kartu parkir maupun stnk pada siapapun yang mengaku polisi atau petugas security perpusnas.
Sejak pertama masuk perpusnas kami sudah meyimpan cukup banyak keluhan akan pelayanan perpusnas yang sangat mengecewakan. (lih note marina, satu lagi buruknya pelaynaan publik di indonesia).
Rada aneh memang hilangnya niy mobil, dugaan kami pasti ada orang dalam yang terlibat. Logikanya jika petugas pakir benar2 memriksa karcis jika mobil keluar maka, tuh mobil gak kan bisa keluar jika tanpa karcis toh, tapi nyatanya mobil hilang begitu saja.ditengah kebingungan ada yang bertanya dan memastikan bahwa apa benar karcis parkir masih ada atau ada didalam mobil dan keliatan memaksa nanya tuh mobil diasuransikan atau tidak. Untungnya tuh karcis masih ada, jadi gak bisa menyalahkan marina. (Pokoknya banyak yang bikin ribet deh)
Sistem pelaynaan parkirnya memang terbukti buruk, bahkan berdasarkan pengakuan satpam penjaga parkiran, jika tidak punya karcis maka cukup melambaikan tangan saja mobil bisa dengan enaknya keluar. Benar-benar sisitem ya buruk. Makanya bagi anda yang hendak keperpusnas musti hati-hati jika bawa kendaraan sendiri.
Tapi ada satu pengalaman menarik dari semua ini yang saya peroleh. Ditengah kebingungan, kekacauan yang terjadi kami berdua sama-sama lemas tidak bisa mengadvokasi diri sendiri dan sama sekali gak sadar jika biasa mendampingi orang yang bermasalah dengan hukum. Banyak orang yang menawarkan untuk membantu mengantar laporan kekepolisian atau menawarkan menelpon wartawan, ada yang mengaku intel dll. Mereka tidak mengerubungi kami lagi ketika kami bilang kami menunggu “pengacara” kami yang masih di jalan (si dela dan Erick).
Sewaktu menelpon kantor, bos kami mengatakan “kan mereka berdua juga pengacara kenapa masih butuh pengacara?” , kami saat itu bener-bener lemes ga bisa bergaya “pengacara” (apalagi belum punya kartu plus kartu nama tertera satff riset) . Tapi satu yang saya rasakan rasanya begitu tenang ketika mempunyai masalah dengan hukum dan banyak orang membuat ribet, apalagi jika musti berurusan dengan polisi, lalu mengatakan”biar pengacara kami yang mengurus”. Semua jadi diam dan gak ribet. Saya jadi tau rasanya ketika orang yang saya dampingi membutuhkan kami “pengacara” untuk berada disisinya. Ternyata kehadiran “pengacara” cukup menimbulkan efek tenang yahh. (duh si fida mulai ribet niy, mau nulis hilangnya mobil marina atau efek yang ditimbulkan pengacara siy kumat deh gak fokusnya;D)
(Cerita yang lain lagi) Kami berempat aku, marina, dela dan erik sebenarnya emmang gak cocok jadi pengacara atau hakim (duh gimana rick kaenya kamu gak cocok deh jadi hakim hahaha tapi bisa dilatih koq) . Kami gampang bangett kasihan ke orang. Melihat 2 orang satpam yang dipanggil untuk memepertangungjawabkan soal kehilangan itu, kami bener2 gak tega, apalagi melihat si bapak berjanggut itu. Rasanya kasihan banget jika mereka yang dituduh padahal yang sebetulnya salah adalah sistemnya. Jikapun terjadi konspirasi, kurasa mereka hanya menjadi korban saja. (ah semakin bingung mau cerita apa gak focus lagi)
Dibalik penelitian ini banyak kisah yang terjadi, mulai eksternal hardisk yang jatuh dan menghilangkan semua data, kunci kantor hilang, laptopku jatuh, laptop marina rusak, hingga hilangnya mobil marina. Semoga hasilnya bagus sebagaimana perjuangan kami selama ini (lebay mode on), pesannya gak usa bawa kendaraan keperpus dey lebih baik hati-hati saja. (semakin diterusin si fida semakin gak nyambung mendingan disudahi ajah) .
sabar marina sabar yah “badai pasti berlalu” dan penelitian kita tinggal sebulan lagi koq, besok pasti kelar:)
Written 3 hours ago – Comment – Like