Fenomena LGBT (lesbian, gay, biseks, Transgender)
Sebenarnya saya pernah menulis tentang ini dalam blog saya di friendster, tapi saat itu tidak dalam konteks yang serius. Kemarin saya bertemu mantan atasan saya dulu ketika bekerja pada isu perempuan. Saat ini beliau menjadi komisioner komnas perempuan. Beliau bercerita, jika saat ini komnas perempuan juga mulai masuk isu LGBT sebagai isu yang harus diperjuangkan dalam konteks hak asasi manusia.
Lalu kemudian kami mulai berdiskusi berkaitan dengan isu ini, kebetulan semaleman sabtu malem minggu kemarin saya tertarik untuk membaca sebuah buku yang berjudul’ Hak kerja waria tanggung jawab Negara” sebuah buku yang ditulis oleh Ariyanto dan Rhido Triawan, yang diterbitkan oleh Friedrich Ebert Stiftung (FES) sebuah LSM Jerman yang mengusung isu Sosial demokrasi, setau saya FES merupaka LSM milik partai SPD Jerman, dan LSM Arus Pelangi yang konsern memperjuangkan dan mengkampanyekan hak-hak kaum LGBT di Indonesia.
Buku ini sebagian besar berisi testimoni para waria yang mendapatkan diskriminasi dalam keluarga, tetangga, dan yang paling banyak dalam dunia kerja. Penolakan-penolakan seringkali dialami oleh waria ketika ingin bekerja disektor formal. Penampilan yang tampak jelas berbeda merupakan persoalan utama. Pada akhirnya penolakan-penolakan ini membuat kebanyakan waria harus terjerumus ke lembah prostitusi dengan menjadi PSK, misalnya saja jika di Jakarta di Taman Lawang. Waria lebih rentan mengalami diskriminasi karena penampilan fisik yang tidak bisa dibohongi, berbeda dengan kelompok gay atau lesbian atau biseksual yang masih bisa diidentifikasikan dengan jenis kelamin perempuan ataupun laki-laki.
Saya selalu menyatakan , saya setuju jika harus membela hak-hak asasi kaum LGBT yang mengalami diskriminasi apalagi menyangkut hak memperoleh pekerjaan yang layak. Bukankah dalam UUD 1945 pasal 27 dijelaskan bahawa seiap warga Negara berhak mendapatkan pekerjaan yang layak. Demikian juga berkaitan dengan hak asasi manusia, diatur dalam uu no 39 tahun 1999 tentang HAM.
Namun jika harus turut mengkampanyekan isu ini, tunggu dulu. Saya masih harus berfikir dan benar-benar menggunakan paradigma yang tepat untuk melihat ini. Saya secara pribadi masih harus benar-benar memastikan keberpihakan saya. Terus terang saja saya dibesarkan dengan lingkungan fundamental yang hanya mengenalkan pada hubungan heteroseksual. Otomatis untuk dapat menerima dan mengkampanyekan hal ini tentulah sangat sulit.
Diskusi dengan mantan bos saya, beliau bilang ada penafsiran dari kelompok LGBT jika dalam islam sama sekali tidak pernah disebutkan jelas dalam al-qur-an bahwa pasang-pasangan itu antara laki-laki dan perempuan. Nah ini dijadikan dasar sebenarnya tidak ada larangan dalam islam berpasang-pasangan sesama jenis. Jika menurut saya bukankah dengan jelas dikatakan dalam Q.S Al A’raf 7:84 yang menjelaskan mengenai azab Alloh SWT akan kaum yang mempunyai orientasi seksual yang seperti ini. Saya rada gak begitu hafal surat-suratnya , mungkin akan lebih detail lain waktu.
Saat ini tampaknya ada gerakan sosial baru baru yaitu gerakan kaum LGBT ini, prediksi saya hal ini akan menggantikan gerakan feminisme yang sudah mulai dapat diterima dimasyarakat. Tapi saya tetap masih belum bisa merubah paradigma berfikir saya tentang persoalan LGBT ini.
Saat ini jadi semakin banyak kaum seperti ini loh. Kalau konteks paradigma berfikirnya diarahkan seperti ini saya sama sekali tidak akan pernah setuju. Karena jika benar mereka akan memperjuangkan LGBT dengan menggunakan metode yang sama dengan memperjuangkan gender. Bisa rusak tatanan sosialnya, karena akan cenderung mempengaruhi yang lain. Paling tidak dengan berdiskusi bersama mantan atasan saya , saya sedikit bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dibenak saya. Mengapa makin banyak gay, biseksual , lesbian dan homoseksual di Jakarta ini.
“Musdah mulia menganggap bahwa orientasi seksual bersifat given/fitrah sedangkan perilaku seksual yang bersifat konstruksi social, dengan kata lain hukum agama berkaitan dengan perilaku seksual bukan orientasi seksual, sebab bagaimana mungkin seseorang dihukum bukan karena pilihannya? Ia menitikberatkan pentingnya mengampanyekan kepada publik, apapun orientasi seksual seseorang, yang paling penting perilaku seksualnya aman, nyaman dan bertanggung jawab serta tidak bertentangan dengan aturan agama, seperti berzina, melacurkan diri, incest, pedofil, kekerasan seksual, dan sebagainya. “
Hah…..kalo begini saya juga masih bingung, penting membaca dari banyak informasi yang lebih seimbang lagi? Tampaknya saya masih masuk dalam kelompok fundamentalis bahkan tradisional yang berfikir dengan paradigma heteroseksual yang masih beranggapan bahwa menikah ya harus dengan lawan jenis.Masih belum begitu ngeh dengan isu ini. Ada yang mau berdiskusi????
9 Komentar
Assalamualaikum Wr Wb
sy org baru di blog ini, tp membaca tulisan mas/mbak cahayamatahariku (busyett pjg benerr namanya) yg ini menarik. Sy tau kalo tulisan spt ini sdh banyak beredar, tetapi membca postingan ini trasa berbeda, krn terkesan ada tarik menarik, pro kontra di benak penulis. Di satu sisi penulis setuju hrs ada persamaan hak utk pekerja yg LGBT, tp utk kehidupan sosial tunggu dulu, krn terkait dg Agama sptnya. Sy sepaham dg penulis krn dlm konteks pekerja, sy pikir mrk jg berhak mendapat perlakuan yg layak, tp dari segi Agama (utamanya agama islam yg sy anut) sy sgt tidak setuju…itu sgt bertentangan, sy lupa Surah apa tp yg pasti Allah pernah melaknat kaum gay pd zaman nabi (lupa) di Yaman…betul gak?
intinya itu, tp sy komen aja gak mau diskusi, gak menguasai soalnya.
sukses yah dg tulisan2 yg berbobot spt ini.
Wassalam
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.
Tulisan ini sebenarnya bermula dari keresahan saya melihat semakin banyaknya komunitas gay yang saya temui. Pengetahuan saya mengenai hal ini tentunya sangat terbatas, selalu terbuka untuk diskusi:)
wihh.. kalo ini bahasannya ga bakal habis2nya fid.. semua mempertahankan paragdimanya sendiri.
bahasan ini juga tentunya berbicara soal perasaan.
tapi menurutku, menjadi gay, lesbian, bisex ataupun transgender adalah pilihan.
pilihan mengikuti perasaan atau mengikuti apa yang sudah dibentuk oleh Tuhan.
pilih yang mana?
Iyah rian aku sih karena emang masih pake paradigma fundamentalis yang heteroseksual sepakat dengan pendapatmu. Tapi coba kamu baca dey kutipan dari omongan musdah mulia, diakan bilang bahwa orientasi seksual bersifat given atau fitrah nah loh gimana? kalo bersifat given artinya ya sama seperti ketika kita harus dilahirkan sebagai perempuan atau laki-laki. Dia berpendapat yang merupakan konstruksi sosial ya soal perilaku sseksual dududu ribet yahh
kalo menurutku lagi fid..
apa yang sudah Tuhan berikan, tidak mungkin salah. Tuhan ngasih jenis kelamin laki-laki atau perempuan tentu tujuan dan orientasinya TEPAT. Pernahkah Tuhan itu salah?
bila jenis kelamin kita laki-laki lantas diberikan orientasi seksualnya sebagai wanita atau sebaliknya,
bukannya itu tidak tepat?
bagiku Tuhan tidak pernah salah.
kalau pernah salah, apa bedanya dengan manusia?
kembali pada kesadaran diri…
sadar akan apa yang sudah Tuhan ciptakan.
ketika kita sadar apa yang sudah “terpasang” itu yang biasa kita sebut dengan kelamin, maka kesadaran tersebut akan mengarahkan orientasi kearah yang tepat pula.
hmm.. saya rasa sebaiknya ditanyakan lagi pada “Pembuatnya” aja, daripada salah persepsi… hehehe
“orientasi seksual bersifat given/fitrah sedangkan perilaku seksual yang bersifat konstruksi social, dengan kata lain hukum agama berkaitan dengan perilaku seksual bukan orientasi seksual”
setuju dengan pendapat bu musdah.
seandainya kita yg berada di posisi mereka…
aku muslimah….
aku mencintai perempuan…
so what?
sexualitas itu cair…
peace…
@ pelangi perempuann…. saya senang dan berterimaksih anda mampir keblog saya yang ini,…..hmmmm memang pembahasan ini masih menjadi perdebatan termasuk perdebatan bagi pemikiran saya pribadi yang masih penganut fundamentalis heteroseksual. trimaksih untuk komentarnya, bebas mengemukakan pendapat koq:) saya juga menghormati kawan-kawan yang memilih sebagai gay, biseks ataupun lesbian dan transgender:))
hallo mb Fhiedha, Saya tergugah dengan tulisan mu ini. Saya termasuk orang yang setuju dengan pendapat yang mengatakan semua orang berhak mendapatkan persamaan di semua bidang kehidupan, tak terkecuali komunitas LGBT.
Tetapi mengutak atik Al Qur’an dengan penafsiran baru adalah salah. Sehubungan dengan komunitas LGBT, aku yakin tuhan tidak pernah salah dalam mencipta. Tuhan mencipta segala sesuatu dengan tepat dan tujuan yang pasti tepat pula. Dan tinggal bagaimana individu tersebut punya iman untuk mampu menyelaraskan dirinya dalam tuntutan agama.
jadi usaha untuk legalitas perkawinan sejenis adalah usaha yang menentang peraturan Allah.
Saya Gay, tetapi bagiku hidup dalam tuntunan agama akan jauh lebih mulia daripada mengikuti nafsu belaka.
makasih
http://WWW.hermanvarella.wordpress.com
Fiedha says:
Mas Herman, saya kagum dan salut akan kejujuran mas herman:) dan suprise banget mas mau baca tulisan saya dan mau kasih masukan, maklum mas pemahaman saya masih sangat kaku tentang ini kalo dikaitkan soal agama. Tapi kalo dikaitkan dengan soal kesempatan yang sam adalam segala bidang termasuk mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa diskriminasi saya sangat mendukung bahkan saya juga akan berjuang, tapi saya masih rada perlu waktu untuk berfikir jika harus ikutan kampanye soal ini dan kemudian membantu menuntut adanya aturan pernikahan sejenis. Saya masih bingung. Makanya dengan kehadiram Mas Herman untuk turut berdiskusi semoga memberi warna dalam blog saya dan juga menambah empati bagi semua kawan-kawan yang kebetulan mampir.
sekali lagi saya kagum akan keterbukaan mas, tidak semua orang bisa melakukannya, perlu keberanian untuk itu. Dengan keterbukaan saya yakin akan membantu kawan-kawan untuk berempati bukan hanya simpati terhadap pilihan kawan-kawan sebagai LGBT.
trimakasih ya mas:)
Dear All, termasuk Herman Varella,
Saya juga gay, dan telah lama berjuang untuk komunitas gay. Baru baru ini mengikuti kursus gender dan seksualitas. Ada banyak pemahaman ttg seks dan gender yang salah dan selama ini terkonstruksi. Ini dikarenakan kontruksi masyarakat mayoritas yang fundamentalis heteroseks. Pdhal seks itu sifatnya cair. Dan di dunia ini tidak hanya berlaku hukum biner. Tidak hanya ada siang dan malam saja, tp ada sore dan pagii. Tidak cuma hitam dan putih saja, tp ada abu-abu dan merah, dll. Tdk hanya Halal dan Haram saja, tp ada makruh, mubah, dll. Demikian dalam hal seks, tdk cuma pria wanita, tp ada gay, lesbi, queer, transgender, dll. So, meski sama-sama gay, saya kurang setuju dg pendapat Herman Varella. Ada namanya fase gay denial dimana umumnya masih menyangkal keberadaan dan kehidupan gay nya. Lagian juga banyak gay yang taat menjalankan agamanya. Why not? Gay cuma orientasi seks, sdg prakteknya tergantung msg2 individu. Ajaran agama hubungannya dg Tuhan Sang Pencipta kr