perbincangan dengan perempuan yang dilacurkan

Sungguh sulit menyimpulkan hasil perbincanganku dengan Rina, perempuan pelacur yang bersamaku di losmen kelas teri di sebuah kota pinggiran Jawa Timur, sekira sepekan silam itu.

Tapi, bolehlah kucoba menarik dua larik kalimat untuk sedikit memberi abstraksi tentang hidup dan kehidupan Rina dari hasil perbincanganku dengan dia.

Pertama; masa depan telah buram, dan masa lalu adalah eraman dendam.

Kedua, kekejaman yang berbalut keceriaan. Istilah yang kedua ini kutakik dari novel A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini.

Baiklah, akan kukisahkan padamu ihwal dua larik kalimat itu–yang tentu saja jauh dari kata cukup untuk menyeka hidup dan kehidupan Rina seutuhnya.

Ya, aku melihat ada bunga mawar di dadanya. Gambarnya jelas terukir di atas belahan dadanya.

Malam itu hening. Purnama belum sempurna, bulan tampak seperti lubang yang menganga.

Kudengar dengus nafas yang terengah dari kamar sebelah. Aku seperti merasakan nafas panas itu menyelinap masuk, menembus dan merayap di tembok kamar, lalu menguarkan aroma yang menggelegak jiwa: permainan yang menantang.

Dan inilah sederet mantra yang kurapalkan berulang-ulang di dalam hati: langit muram. menatap nyalang. aku terdiam. dirinya masih terus terbayang. Oh, Tuhan, aku yakin kau tak peduli pada tabu…

Haruskah aku memang benar-benar “mempekerjakan” Rina, perempuan pelacur itu? Membuat dia benar-benar “bekerja” seperti yang sehari-hari dia lakukan: membuka pakaian dan celana, telentang di ranjang, sedikit mengerang atau pura-pura mengeluh dengan nafas tersengal dan mata memicing, menggerakkan tangan menarik-narik seprai seolah terangsang, hingga akhirnya prosesi itu selesai. Buyar dengan ceceran cairan di ranjang.

Jujur, aku sebenarnya hanya ingin berbincang dengan dia malam itu. Dan kalau bisa berlanjut terus pada hari-hari berikutnya. Perbincangan yang tulus: berbagi beban, berbagi cerita hidup dan kehidupan. Tanpa nafsu, tanpa nafas menggebu. Tanpa harus ada yang tumpah di ranjang.

Rina kini sudah berada di sampingku. Dekat dengan wajahku. Sangat dekat, bahkan. Wajahnya oval. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya hitam-pekat nan lurus. Dan aku baru tahu lubang-tindik di telinga kirinya ada tiga buah.

“Mbak, jujur, aku hanya ingin berbincang dengan sampeyan.” Aku akhirnya berterus terang. Aku tahu dia akan marah.

“Maksud sampeyan apa?” dia setengah membentak, lalu bangkit dari posisi rebahnya. “Jangan main-main denganku!”

“Aku pengin ngobrol-ngobrol, Mbak. Aku kesepian. Aku minta maaf. Silakan pulang kalau sampeyan nggak mau,” kujawab dengan nada datar.

Semula, aku menduga dia akan marah. Tapi, dia justru diam. Lima menit tanpa kata. Bisu. Dunia serasa berhenti berpacu. Jam menjadi batu.

“Sampeyan menganggap perempuan seperti aku ini apa? Mainan saja? Perempuan hina? Dancok!” Intonasinya meninggi pada kata “dancok”. Bagi kau yang bukan orang Jawa Timur, kata “dancok” atau “jancok” adalah semacam umpatan, sumpah serapah.

Nafasnya tertahan. Rina seperti menahan sedu yang dalam.

Aku merasakan waktu seperti bergulir mundur. Menyeretku kembali hadir ke ruang lokalisasi murahan di sebuah kota yang pernah kusinggahi untuk kepentingan penulisan berita.

Di Jember, tempat aku kuliah selama empat warsa, diriku pernah singgah di lokalisasi murahan di wilayah Puger. Lokalisasi itu dekat pantai. Aku pernah singgah ke sana kala menulis berita soal rencana penutupan lokalisasi itu oleh pemerintah kota, tentu saja atas rekomendasi institusi agama. Saat itu aku masih aktif di pers kampus.

Penutupan paksa lokalisasi di Puger, Jember, itu, seperti juga terjadi di banyak kota, adalah kealpaan. Perempuan pelacur diorak, dikejar-kejar. Ada bias yang teramat dalam.

Perempuan pelacur terus dihina-dina. Agama dan institusinya mengutuki mereka. Padahal, setahuku, Tuhan tak pernah sejahat itu. Tuhan tak mungkin jahat. Jika Dia jahat, ngapain kita harus beriman kepada-Nya? Ngapain kita setiap hari setidaknya harus membasuh muka lima kali lalu menghadap ke kiblat? Ngapain kita harus sibuk-sibuk pergi ke gereja, pura, vihara?

Agama(wan) merajam perempuan pelacur dengan sekepal ayat suci. Wakil tuhan (dengan “t” kecil) itu lupa, agama adalah alat untuk menemani, bukan mengutuki. Aku geli melihat wakil tuhan itu berbusa-busa bicara dosa ketika justru banyak di antara mereka berkongsi dengan penguasa, menghasilkan jejalin model penindasan baru: semua tindakan penguasa dilegitimasi seperangkat nilai-moral yang sempit.

Agama(wan) mencela mereka sebagai iblis. Wakil tuhan (dengan “t” kecil) itu semestinya malu bahwa tesis iblis telah terbukti. Di awal penciptaan Adam, sang iblis sudah enggan hormat pada makhluk dari lempung-tanah itu. Iblis emoh khidmat karena mereka sangsi manusia bisa tumbuh sebagai makhluk yang taat. Tesis sang iblis: manusia hanya akan jadi pengacau, dan itu membikin dunia jadi kacau-balau. Manusia hanya akan saling serang dan saling perang. Ihwal penciptaan manusia memang sudah dilaburi segudang sangsi dari iblis.

Bukankah sekarang tesis iblis telah terbukti, wahai para wakil tuhan? Kau selayaknya malu, dan jangan mencari kambing hitam dengan mengurusi urusan remeh-temeh semacam penutupan lokalisasi. Kau harus malu karena kau selama ini hanya sibuk mengurusi kitab suci, membangun pondok pesantren semegah mungkin, dan membuat masjid bak kerajaan. Malah ada sebagian dari dirimu yang sibuk berpoligami. Kau, wahai agamawan, mestinya malu karena abai pada problem sosial-praksis yang membuat tesis iblis telah terbukti.

Aku masih terdiam. Rina mengulangi pertanyaannya. Hanya kali ini lebih datar.

“Sampeyan menganggap perempuan seperti aku ini apa? Mainan saja? Perempuan hina? Dancok!” Kata “dancok” diucapkan seperti mendesis atau setengah berbisik ketika mulutnya mendekat ke telingaku.

“Tidak, Mbak. Tidak. Tak ada yang salah dalam diri sampeyan. Tak ada yang salah.” Ucapan itu meluncur dari mulutku dengan keyakinan yang dalam.

Jarakku dengan dia masih sangat dekat. Aku menyentuh tangannya. Sangat halus.

“Jangan takut apa pun, Mbak. Lakukan apa yang menurut sampeyan terbaik. Jangan takut semua yang sampeyan lakukan ini salah. Yakinlah itu, jangan anggap semuanya sebagai kesalahan. Aku yakin sampeyan pasti lebih menginginkan memeluk anak di rumah daripada berada di ranjang ini, kan?”

Aku menyesal telah sok bijak dengan bicara panjang tanpa sela seperti itu.

Dan dia tiba-tiba menangis dengan sedu-sedan. Rina tak meraung dan histeris. Ia hanya sesenggukan, terpotong-potong tangisnya. Aku merasakan ada semacam beban yang lama ingin dilemparkannya, ada lara yang lama dieramnya.

Rina bersandar ke ujung ranjang. Bunga mawar tepat di atas belahan dadanya seperti mekar. Aku tak berkedip memandangnya.

Aku berdiri dan kembali mematikan lampu. Kuikuti dia dengan duduk bersandar di ujung ranjang. Kini, kami berdua duduk bersebelahan. Kulit kami bersentuhan. Samar kulihat bulu-bulu tipis di tengkuknya. Rambut sebahunya kini telah ditali dengan pita warna hijau muda.

Kuhela nafas panjang. Aku merasa inilah salah satu momen paling krusial dalam hidupku. Aku tak boleh gagal.

“Yang menghina sampeyan itu justru orang yang salah, Mbak. Apa hak mereka bilang bahwa sampeyan salah? Peganglah hidup sampeyan, aku yakin sampeyan sudah melakukan yang terbaik.”

Aku lega. Tiga larik kalimat itu berhasil dengan mulus kuucapkan. Tanpa tertahan. Tanpa nada menggurui.

Rina mulai menerima ajakanku untuk berbincang, bukan untuk berpagutan. Dia semakin mendekat ke tubuhku. Bau wanginya tercium jelas. Tuhan mengabulkan doaku. Terima kasih, Tuhan.

“Aku suka cara sampeyan berkata-kata.” Aku menoleh menghadap wajahnya. Aku bisa melihatnya tersenyum kecil.

Semua orang menyalahkanku, kata dia, kecuali sampeyan. “Ini melegakan. Akhirnya aku diakui oleh seseorang. Makasih, Mas.”

Dia menarikku untuk rebahan. Kini kami tidur bersampingan. Menatap langit-langit kamar. Hanya gelap terlihat. Entah bagaimana awalnya tangan kami tiba-tiba berpegangan erat.

Dan tibalah saat pita cerita diputar. Aku akan mengisahkan kepadamu seringkas mungkin. Ada beberapa bagian yang tak akan kuceritakan. Biarlah itu kupendam sendiri, meski aku juga tak tahu ceritanya kosong atau nyata.

Rina seorang gadis yang tangkas. Dia cantik. Lulusan sebuah madrasah aliyah di sebuah kota yang cukup jauh dari kota yang kini dia tinggali, kota yang mempertemukan diriku dan dirinya.

Sayang, nasib tak berpihak kepadanya. Niat melanjutkan sekolah tinggal angan. Belitan kemiskinan membuat orangtuanya menyeretnya ke gerbang pernikahan. “Aku dipaksa menikah dengan lelaki yang lima belas tahun di atas usiaku. Padahal, aku sudah pacaran dengan teman sekampungku.”

Cerita yang klise, kurasa. Tapi, begitulah adanya.

Rina menceritakan dengan nafas tertahan. Kurasa dia sekuat tenaga menahan agar lesung pipinya tak jadi sungai airmata.

Dia menikah tepat setahun seusai lulus madrasah aliyah, pada 2000. Umurnya 20 tahun saat itu. Jadi sekarang umurnya memasuki 29 tahun. Dia dibawa ke kota oleh suaminya. Seekor sapi hadiah sang suami diserahkan ke orangtuanya. Aku tercekat, gadis seperti dirinya dihargai seekor sapi.

Namun, hidup harus terus ditatah. Bukan dengan kegembiraan, tapi penderitaan. Imron, demikian Rina menyebut nama suaminya, seorang pemarah. Tapi, setelah mendengar ceritanya, aku punya julukan lain untuk Imron: kelainan jiwa!

Tahun ketiga pernikahan lahirlah anaknya. “Ricky, namanya.” Sekarang usianya lima tahun, tinggal bersama dirinya di rumah kontrakan di sebuah desa di kota ini.

Dan fase gulita dalam kehidupannya pun mulai dibentangkan pascajanji suci pernikahan dirapalkan. Kekerasan demi kekerasan bergulir. Hampir saban hari dilalui Rina dengan menahan luka; entah karena tamparan, tendangan, atau pukulan. Tamparan tanpa kesalahan, tendangan tanpa alasan, dan pukulan tanpa latar belakang. Tapi, yang lebih terdalam adalah luka di hatinya.

Rumah tangga menjadi institusi yang menyeramkan. Dan keluarga adalah serupa neraka jahanam. Aku jadi mengerti jika ada sejumlah kawanku, terutama perempuan, yang bersumpah tak mau berumah tangga.

Semua beban hidup itu seolah tak mendapatkan perlawanan dari Rina. Dia membiarkan hidupnya seperti filsafat air: hadir dan mengalir. Jangan bayangkan ada jejalin cinta platonik dalam diri Rina dan suaminya itu. Cinta ibarat eraman dendam yang merindu darah segar.

Tiba-tiba aku teringat ucapan pedas Nana, ibu Mariam, dalam novel A Thousand Splendid Suns. Sebuah novel tentang kegetiran Afghanistan, dan terutama tentang betapa agama telah menjadi institusi jahat yang melanggengkan patriarki.

Kira-kira begini ucapan Nana di novel itu (aku tak ingat persisnya): “Ibarat jarum kompas yang melulu menunjuk ke utara, jari telunjuk seorang pria selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah itu, Mariam.”

Nana adalah pembantu di rumah Jalil Khan, seorang saudagar, yang kemudian memerkosanya. Lahirlah Mariam. Nana dan Mariam diusir dari rumah sang saudagar untuk menjaga nama baik Jalil. Di akhir cerita, Jalil menangisi kesalahannya. Namun, semua terlambat. Begitulah hidup: penyesalan selalu datang ketika semuanya sudah hilang.

Bagi Rina, seolah mengamini pernyataan di novel itu, lelaki adalah teror. Lelaki itu pula yang kemudian menceburkan Rina ke jelaga hitam dunia pelacuran. Dia menjualnya, lalu Imron, lelaki itu, raib entah ke mana.

Belitan ekonomi membuat Rina tak mampu keluar dari kubangan dunia transaksi jual-beli tubuhnya sendiri. Atau mungkin bukan tak mau keluar, Rina sepertinya ingin menjebol sekat tebal kemunafikan lelaki tentang perempuan. Dengan modal kulit kuning langsat dan senyum yang terasa sangat pas muncul bersama lesung pipinya, tak cukup sulit bagi dia untuk menjadi primadona di kawasan gelap pelacuran kelas teri.

Sehari minimal tiga tamu menghisap sarinya. Menumpahkan nafsu bejat dan kemunafikannya ke tubuh Rina. Namun, kelak, ketika tubuhnya sudah reyot, para lelaki pun dengan mudah berpaling. Ketika susunya tak lagi mengkal menantang, ketika itu pula para lelaki mengibarkan penolakan. Begitulah lelaki, selalu ingin enaknya saja.

Tangan kami masih berpegangan erat. Kami berbagi cerita dalam gelap yang sangat. Aku sungguh menikmatinya. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah memberiku momen yang sangat berharga: rebahan bersama seorang perempuan pelacur. Kulafalkan hamdallah dalam gumam: alhamdulillah.

“Aku yakin tak semua perempuan sanggup menahan beban yang sangat berat seperti sampeyan. Aku merasa sampeyan adalah manusia pilihan.” Aku berucap jujur tanpa bermaksud menyanjungnya. Kurasa dia seperti sedang menjalankan tugas Kenabian yang kelak akan mampu menjadi pijar bagi kelamnya peradaban.

“Sampai titik tertentu, aku kadang ingin bunuh diri, Mas. Tak tega melihat anakku nanti akhirnya tahu bahwa ibunya seorang lonthe, gundik.”

Tapi, toh Rina seorang yang hebat. Dengan gelimang nasib buruknya, dia justru menjebol tembok dengan kesadaran dirinya. Dia mungkin tak pernah mendengar, apalagi membaca, kisah Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol karya Nawal el Saadawi.

Tapi, praktik laku hidupnya tak jauh beda dengan kisah tokoh di novel tentang politik pelacuran itu. Aku sejenak teringat pada Sayuwiwit atau Sri Tanjung, pahlawan perempuan pemberani dari tanah Blambangan.

Rina, sebagaimana keyakinan Firdaus di novel liris tersebut, seperti hendak meneguhkan keyakinan bahwa menjadi pelacur yang baik jauh lebih berguna daripada menjadi ulama yang kerjanya cuma memicu kebencian. Menjadi perempuan pelacur yang dengan sadar-diri mendobrak tembok patriarki dan mengguncang kemunafikan terhadap seks jauh lebih berguna daripada menjadi agamawan yang sibuk berkongsi dengan penguasa dan mempersolek masjidnya bak kerajaan.

Aku menjadi semakin yakin bahwa Rina seolah menyandang tugas kenabian. Dia adalah bagian terpenting untuk membongkar tabir kebobrokan masyarakat yang kental dengan lendir patriarki.

Aku juga menjadi mengerti, tapi tak menyetujuinya, jika dia berkehendak bunuh diri. Lagi-lagi, aku ingin kau tak menghakimi bahwa bunuh diri adalah perbuatan cela-dosa yang akan diganjar neraka. Tidak. Jika sadar-diri, bagi Rina, bunuh diri adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati, kebebasan tubuhnya. Seperti Firdaus yang memilih jalan kematian daripada menerima ampunan.

“Tapi, kehidupan akan jauh lebih berarti bagi anak Mbak Rina daripada sampeyan mati sekarang.” Aku berkata dengan semakin mengeratkan pegangan tangan.

Dari cerita ini, bolehlah kemudian saya menarik kalimat “masa depan telah buram, dan masa lalu adalah eraman dendam” untuk sekadar menggambarkan hidup dan kehidupannya.

Sekarang, izinkan aku bertanya pada diriku sendiri dan kalian semua. Ketika masa depan tak tergenggam, dan masa lalu melulu dendam, apa yang akan kalian lakukan? Aku yakin Rina jauh lebih hebat dari diriku. Mungkin juga lebih superior daripada kalian semua.

***
“Kekejaman yang berbalut keceriaan” adalah kalimat kedua yang bisa sedikit memberi abstraksi tentang hidup dan kehidupan Rina. Setakik kalimat itu sungguh indah. Aku tak mungkin lupa. Jejeran kata itu menjadi satu-satunya kalimat yang kuingat persis di luar kepala dari dua karya fenomenal Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns dan The Kite Runner. Kalimat itu ada pada karya yang kusebut pertama.

“Kekejaman berbalut keceriaan” adalah terminologi yang sangat menawan. Istilah yang mengikuti berbagai tragika dan genosida di dunia: pembantaian jutaan manusia saat huru-hara politik 1965 di republik ini dirayakan dengan tawa luar biasa sebagian kalangan, genosida di Palestina diselingi seringai tawa Israel, dan sebagainya. Semua-muanya itu memberi takwil tersendiri bahwa kemanusiaan telah getas.

Saat Rina menyeka lara fisik dan batinnya, suaminya tak hirau. Orangtuanya bebal atau tak tahu sang anak dirundung duka. Suaminya malah dengan hati yang riang membawanya ke jelaga pelacuran.

Tangan kami masih berpegangan. Fajar belum sepenuhnya menjelang. Dan dingin kian mencerucuk tulang. Sekali lagi aku mengucapkan alhamdulillah, Tuhan sudah begitu baik kepadaku dengan memberikan momen berharga seperti ini.

Aku mengajaknya tidur. Batinnya sudah lelah, kurasa. Perbincangan ini telah kembali menguras emosinya. Kugenggam erat tangannya. Kami terbangun di pagi harinya. Entah kenapa tangan kami masih berpegangan.

Tak ada kata yang terucap pagi itu. Matahari yang angkuh membuyarkan momen indah indah ini.

Aku melihat bunga mawar tepat di atas belahan dadanya seperti kian mekar dan hanya wangi yang menguar. Tato itu berada tepat di atas penutup payudaranya, sebuah bra warna hitam. Dia kembali mengenakan kaos putih dan jaket ketatnya. Aku melihat kecantikan yang sangat alami ketika rambutnya tak tertata dan bedaknya sudah meluntur.

Aku harus kembali melanjutkan perjalanan. Dan dia harus kembali pulang menemui anaknya. Kami bertukar nomor ponsel.

Maafkan, aku, Rina. Aku terlalu pengecut untuk terus ada di sampingmu, atau mungkin dengan gaya pahlawan membawamu bersamaku menjalani kehidupan baru. Kau bisa saja menolaknya, tapi pasti kau akan mempertimbangkan dengan sangat bila ada tawaran untuk menjalani kehidupan baru bersamaku itu memang ada. Tapi, sudahlah, aku terlalu pengecut.

Pulanglah, tantanglah duniamu sendiri.

“Titip salamku buat Ricky. Kelak aku akan mengunjungimu kembali.” Itu dua kalimat terakhir yang kuucapkan. Tak ada banyak kata pagi itu, berbeda ketika sepanjang malam kami berbagi cerita.

Entah mengapa aku hanya diam.

Dia berlalu, juga tanpa kata-kata. Bahkan tanpa menoleh.

Aku terhenyak dan berpikir, ada kalanya Cinta memang tak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Dari diriku, juga mungkin dari dirinya.

[Ah, akhirnya selesai juga. Terima kasih, Mba' Rina, untuk semua kisahnya. Entah ceritamu bohong atau tidak, aku sudah menjumput banyak hikmah dari sana. Hikmah yang tak akan kudapatkan dari khotbah menjemukan yang terus diputar-ulang setiap hari Jumat.]

4 Komentar

  1. fiksi ato fakta?? lagian temanmu dalam rangka jurnalis ato sbg laki2 saat menyewa dia??? smg saja tak banyak lagi perempuan yg diperlakukan spt itu oleh laki2, dan semakin banyak perempuan yg tau bahwa dirinyalah yg berhak atas badan tms kewanitaannya.

  2. hmmmm itu fakta mba, dengan gaya penulisan yang deskriptif imajinatif yahhh, kalo dalam penulisan berita ini sih semacam feature gitu setauku.
    Kalo wartawan sih seringkali melakukan investigasi beginian, nah meskipun tidak dalam rangka jusnalistik, biasanya jiwa wartawan yang petualang selalu ingin mendapat inspirasi , penasaran dan ingin mencoba melakukan hal-hal menantang semacam ini. Kalo yang bisa bertahan ya kae penulis ini akhirnya menghasilkan karya, kalo yang ga ya mba akan tau sendiri jawabannya. hehehe sebenarnya ini bukan fokus untuk diskusinya siy:))

  3. Ada komentar menarik dari seorang teman ketika saya mengirim email berisi tulisan ini:

    nurus lagi ‘romantis’ nih… :)

    pelacur mmg simbol dr fenomena sosial utk menjelaskan paradoks di
    masyarakat, dari zaman purba (konon pelacur adalah profesi tertua di
    dunia) sampe hari ini en besok2 juga barangkali. kebaikan sekaligus
    keburukan, hitam sekaligus putih, ‘kekejaman sekaligus keceriaan’, …

    titiek puspa pun bilang bgt dlm lagunya (yg banyak memberi inspirasi gue
    utk trus inget gak jd merasa ‘baik’ atawa ’suci’ sendiri en karenanya
    berhak menilai ‘moralitas’ orang lain). bgt jg Rendra yg pernah berseru:
    ‘bersatulah pelacur Jakarta!’

    sebagian agama pun mengingatkan itu (Yesus pun konon jatuh cinta pada
    Maria Magdalena, yg adalah pelacur; kurang tahu dg yg lain).

    pelacur adalah profesi, dan karenanya berhak dihormati, paling gak berhak
    utk didengar argumentasi para pendukungnya. bbrp merasa itu bukan profesi
    ‘terhormat’ (termasuk sebagian mereka yg berprofesi itu), tp pastinya ia
    bukan korupsi. di Belanda & Australia para pekerja seks bergabung dlm
    serikat buruh dan bayar iuran sekaligus pajak utk negaranya.

    taon 2000 dideklarasikan IUSW (International Union of Sex Workers) oleh
    Ana Lopes, imigran asal Portugal di Inggris, yg menyimpulkan “that a lot
    of the problems in the sex industry were not actually related to the work
    itself” tetapi “about the conditions in which the work was done and the
    amount of power the worker had.”

    sama saja dg masalah kaum pekerja lainnya.

    gue udah rada gak ‘romantis’ melihat kawan2 dg profesi ini. gue melihatnya
    sama aja spt buruh lain, yg punya problem dan masalah, juga hati dan
    mimpi, dan karenanya berhak utk dihargai.

  4. mbak walaupun kebanyakan pada nayain tentang kebenaranya tapi itu tulisan yang bagus.


Tulis sebuah Komentar

*
*