fhiedha
-
01:11:53 pm on Oktober 19, 2009 | # |
“saya memang ikut mogok kerja agar upah kami naik mba, hanya itu yang saya tau saya tidak pernah tau kalo resikonya saya harus di PHK..kehilangan pekerjaan….dan harus melalui proses yang begitu panjang seperti ini” ungkapan seorang buruh di PHI bandung
Hmmmm akhir-akhir ini persoalan mogok kerja dengan segala akibat yang ditanggung teman-teman buruh ini menjadi beban yang teramat dalam bagi saya. Bahkan sedikit berlebihan sampai masuk kedalam mimpi-mimpi dalam tidur saya. Bagaimana tidak masuk kedalam mimpi jika akibat mogok kerja yang dilakukan kawan-kawan buruh selalu berakhir dengan PHK puluhan bahkan ratusan buruh. Sayangnya kami hanya masuk dan membantu ketika mereka sudah mengalami tindakkan balasan berupa PHK. Jadi wajar jika mendengar ada serikat yang akan melakukan mogok kerja tiba-tiba saya merasa ketakutan yang amat sangat. Takut mereka tidak benar-benar menyusun rencana mogok dengan matang. Takut jika akibatnya mereka harus kehilangan pekerjaan…belum lagi jika harus menghadapi penegakan hukum yang kacau ini. Tapi lebih sedih lagi jika tau bahwa para anggota serikat buruh ini tidak tau apa yang sebenernya sedang mereka perjuangkan dengan melakukan mogok kerja. Bahkan yang meyakitkan bagi saya adalah ketika mereka tidak tau sama sekali apa yang sedang diperjuangkan hanya sekedar ikut apa kata pemimpin serikat, tanpa diberi tahu resiko-resiko terburuk yang akan mereka hadapi. Sampai disini saya mencoba berfikir dengan sangat keras….koq pemimpin jadi seperti penindas ya…bener-bener gak adil, tanpa mengetahui apa tujuan dan apa resikonya tiba-tiba diinstruksikan untuk mengikuti mogok kerja. lalu apa bedanya pemimpin serikat buruh ini dengan pemimpin-pemimpin kapitalis yang biasa mereka kritik mereka demo. Sama-sama penindas menurut saya, mustinya jika akan melakukan mogok kerja musti jelas dong apa tujuannya dan apa resiko yang akan dihadapi bukan asal ngajak saja tanpa anggota tahu apa tujuannya dan apa resikonya. Speechless melihat mereka kehilangan pekerjaan, belum lagi jika mereka tidak kuat dan ingin mengambil kompensasi dikatakan tidak militan…………………………………….. Lalu jadi mikir, saya kemudian hanya sebagai alat dari orang-oarang ambiusius yang rela megorbankan orang lain demi ambisinya???? Jadi bener-bener mikir “pemimpin” memang punya godaan besar untuk menjadi manipulatif dan penindas…..semoga tidak semua pemimpin seperti yang saya kuatirkan ini .