Arsip Kategori: Agama

Saya pernah mendengar petuah bijak seorang teman” ketika kamu mendapat kebahagiaan maka kamu jangan sampai terlena karena pasti akan ada kesedihan sesudahnya begitupun sebaliknya jika kamu

mendapat kesedihan maka kamu harus yakin ada kebahagian sesudahnya”. Hal inilah yang saya rasakan dalam seminggu ini. Baru dua hari saya mendapat kebahagiaan yang sangat tiba-tiba saya mendapatkan kesedihan. (kebahagiaan dan kesedihan saya, biarlah saya simpan sendiri).

Ketika mendapat kebahagiaan saya hampir terlena dan sedikit lupa bahwa semua itu adalah campur tangan Allah SWT. Baru kemudian ketika kesedihan datang saya serasa disadarkan bahwa semua adalah kehendak tuhan. Akhirnya saya mencoba merenungi semua apa yang saya alami dengan bijak. Mungkin jika saya selalu diberikan kebahagian saya jadi lupa bersyukur, saya terlena dan lupa bahwa semua ada yang mengatur bukan murni karena kelebihan saya pribadi. Makanya setelah kebahagian saya juga diberikan kesedihan sehingga rasa syukur yang nyaris saya lupakan sontak disadarkan dengan hadirnya kesedihan.
Saya bersyukur dan berterimakasih pada tuhan atas kebahagian yang diberikan, saya juga tetap bersyukur pada tuhan atas kesedihan yang diberikan pada saya. Artinya tuhan masih mencintai saya, tuhan mengingatkan saya ketika saya mulai terlena dengan kebahagian semu didunia. Namun sebagai manusia biasa saya tetaplah penuh emosi, ketika kesedihan hadir air mata tetap mengalir, ketika kebahagian hadir tawa mewarnai hari-hari saya. Ketika kebahagian hadir saya nyaris sombong dan terlampaui percaya diri dan pamrih pada tuhan”mungkin ini karena ibadah saya yang bagus” namun ketika kesedihan hadir saya jadi interopeksi diri “mungkin saya kurang mendekatkan diri padan-NYA”. Intinya entah itu kebahagian, entah itu kesedihan yang hadir dalam hari-hari kita itu semua kehendak tuhan yang merupakan cobaan dari tuhan sebagai wujud cinta tuhan akan hambanya. Artinya apapun itu yang kita rasakan itu wujud cinta tuhan kepada kita. Jangan lupa untuk bersyukur ketika kita mendapat kebahagian, dan jangan lupa untuk istighfar ketika kesedihan meghampiri kita.
“Terima kasih Allah SWT yang telah memberikan kebahagian dan kesedihan pada saya, saya selalu yakin pasti da hikmah dibalik semua ini, saya yakin Gusti Allah tidak tidur, Allahlah yang tahu apa yang terbaik bagi saya”
Kemarin saya bahagia namun hari ini saya bersedih,
Sudah cukup airmata yang mengalir

Jakarta 31 Januari 2009

Tiba-tiba saja saya merasa sangat jauh dari Allah swt, akhir-akhir ini memang saya banyak merenung kembali. Kualitas ibadah saya rasanya mulai menurun, tidak seperti dulu ketika saya masih duduk dibangku sekolah hingga perguruan tinggi. Sekarang saya mudah sekali menjamak sholat, puasa sunnah sudah jarang saya lakukan, sholat malampun mulai berkurang bahkan dzikirpun saya lakukan hanya sekedarnya saja tidak seperti dulu.
Semua terasa berubah, saya gampang sekali sakit dan drop, saya gampang sekali panik. Disudut hati yang paling dalam saya merasa sangat hampa, saya merasa sendiri. Padahal seharusnya saya tidak boleh merasa sendiri karena Allah selalu bersama saya. Yah pada titik kulminasi jenuh, hampa dan merasa tidak mempunyai semangat lagi . Padahal saya sangat kenal dengan diri saya sendiri, saya punya banyak cita-cita, saya punya banyak keinginan, namun saya juga heran dengan diri saya saat ini, tiba-tiba sama sekali tidak mempunyai semangat hidup dan melakukan banyak hal, saya merasa aneh dengan diri saya sendiri. Rasanya saya mulai tidak kenal dengan diri saya.
Ketika pada titik kulminasi jenuh sejak awal bulan lalu, baru tadi saya mulai merenungi kembali, mungkin ada kesalahan yang saya lakukan dalam menjalani kehidupan ini. Baru saja tiba-tiba saya mendapatkan jawabannya. Saya terlalu tenggelam dalam rutinitas kerja saya, dalam eforia tehnologi, saya begitu asik menikmati kesenangan semu, setiap hari melakukan rutinitas kerja, jika bosan saya bermain YM, FB, FS atau apalah, selalu begitu. Menjelang malam saya tidur, bangun kemudian melakukan kegiatan itu lagi. Jika ada pekerjaan diluar kantor saya menikmati bepergian , melihat tempat baru bertemu orang baru. Namun semua itu tidak saya imbangi dengan memperkuat diri secara spiritual, sehingga pada satu titik saya merasa kering secara spiritual, apalagi dengan lingkungan kerja berbeda keyakinan. Ruang untuk berdiskusi agama dengan teman kerja jelas tidak ada. Kebetulan semua teman dekat dan teman kerja berbeda keyakinan. (tapi berbeda itu indah loh)
Mungkin ini salah satu bentuk cobaan yang diberikan Allah, sejauh mana saya bisa selalu istiqomah dalam beribadah pada-NYA. Yah “Istiqomah fid-istiqomah dalam beribadah itu yang penting” pesan bapak saya sejak saya duduk dibangku SMP. Saat ini bukannya saya melupakan melakukan rutinitas beribadah sama sekali bukan, naudzubillahhimindzalik , saya selalu berdoa “tsabit qolbi ala dinni “ ya Allah tetapkanlah aku pada agamaku, disetiap sujud saya. Namun saat ini tampaknya saya kurang menghayati dan kurang khusuk dan istiqomah dalam beribadah. Ibadah yang saya lakukan hanya sebagai kewajiban dan rutinitas saja, tanpa saya hayati maknanya.
Saya sangat merasakan perbedaan yang saya alami, dulu ketika saya terlewat bangun disepertiga malam perasaaan saya sangat kacau dan tidak tenang, bahkan seharian saya ingin menangis dan tidak bisa kosentrasi melakukan kegiatan. Tapi kini ketika saya terlewat bangun malam , dalam hati saya muncul banyak alasan pemaaf “ kamukan capek fid gak papalah kan cuma malam mini, kamukan tidurnya malam karena mengerjakan pekerjaan kantor fid, gak papalah cuma hari ini, bla-bla masih banyak lagi alasan pemaaf yang muncul dalam otak saya. Dulu saya dengan ringannya bisa melakukan puasa, bahkan sejak kelas dua SMU hingga lulus kuliah saya sanggup menjalani puasa nabi daud (meskipun awalnya terinspirasi pak amien rais plus sekalian ngirit loh ) , dan puasa senin kamis setelahnya, namun saat ini rasanya berat sekali menjalani puasa sunnah, dalam hati selalu ada alasan pemaaf “ kamukan gampang sakit fid udah gak usa puasa, kamu kan dulu uda sering puasa udah sekarang gak usa sering-sering bla…bla .
Alhasil saat ini saya merasa sangat tidak tenang, saya merasa jenuh dan merasa sangat jauh dari Allah swt. Dalam kondisi seperti ini saya sangat butuh Bapak, petuah bijak bapak biasanya sangat membantu saya kembali istiqomah. Tapi saya harus bangkit sendiri, saya harus bisa tanpa bapak. Sejak beberapa hari ini saya mulai kembali menikmati ibadah saya, ternyata memang cukup manjur, saya mulai merasa hidup lebih berarti. Kembali menikmati nikamtnya saat berbuka puasa, kembali menikmati sujud-sujud panjang, berdzikir menyebut nama Allah. Ternyata nonton, makan di mall, bahkan jalan-jalan ketika liburanpun tidak bisa membuat saya setenang seperti saat ini. Memang benar keimanan kita fluktuatif selalu naik turun. Satu doa saya yang selalu saya panjatkan “ ya allah jangan pernah mencabut nikmat iman ini dari saya” . Saya selalu berharap bisa selalu istiqomah menjalankan ibadah bagaimanapun dan dimanapun saya berada. Meskipun saya tau pasti banyak rintangan yang akan saya hadapi. Riya gak sih nulis begini? Kalo termasuk riya monggo saya diingetkan yahhh?

Sedang kangen sholat berjamaah dengan bapak di masjid dekat rumah
Trimakasih untuk selalu memberikan nikmat iman ini ya Allah
Trimaksih Bapak yang telah memberiku bekal agama yang cukup
Trimakasih ibu yang telah melahirkan aku di dunia ini
Trimakasi ustad-ustadzahku yang telah mengajarkan banyak hal tentang agama dimanapun kau berada , belum lagi ustadzahku yang galak yang tangannya siap menjewer telingaku kala bacaan tajwidku salah, dudududududdu koq jadi kae buat persembahan skripsi ajah hehehe
Pejompongan, 28 januari 2009

Sejak semalam saya sudah merancang pekerjaan apa saja yang harus saya selesaikan hari ini. Untuk itu semalam saya usahakan sama sekali tidak meyentuh laptop sama sekali dan tidur dengan cepat. Pagi hari dengan semangat saya berangkat lebih pagi dari biasanya. Sudah kebayang mau mnyelesaikan laporan penelitian yang sudah saya tinggalkan hampir dua bulan ini, untuk mengerjakan yang lain.

Namun tubuh saya rasanya lemas ketika tas yang saya pakai putus dan didalamnya ada laptop. Lemes banget rasanya, khawatir banget terjadi sesuatu terhadap tuh laptop. Mana selama ini itu benda yang sangat saya jaga dan saya cintai nyaris berlebihan. Dengan lemas saya coba menghidupkan laptop saya, alhamdulilah meskipun sedikit ada bagian chasing yang retak tapi dia masih bisa digunakan. Rasanya bersyukur banget.

Tapi ada satu pelajaran penting yang saya dapat hari ini”jangan terlalu mancintai dan meyayangi benda atau orang berlebihan, semua adalah titipan, apa yang kita miliki di dunia ini adalah kepemilikan semu” . Makanya ini benar-benar saya renungkan, saya sangat bersyukur laptop saya hanya retak, bisa dibayangkan ga orang lain yang kehilangan laptop. Seperti teman saya yang baru-baru ini juga mengalami hal yang sama eksternal hardisk jatuh dan semua data-data penting hilang, padahal ini semua diluar kesengajaan. Kakak teman saya juga pernah kehilangan laptop property kantor, nah kalau menganti laptopnya bisa, datanya yang sulit.

Intinya saya jadi berfikir, memang seharusnya kita tidak boleh mencintai benda yang kita miliki berlebihan, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Sama juga ketika kita mencintai seseorang berlebihan, ketika orang yang kita cintai sakit atau meninggalkan kita selamanya, pasti kita akan sedih dan kecewa. Saya juga pernah mengalami sedih dan kecewa juga mempertanyakan keadilan pada Alloh, ketika orang yang saya sayangi ternyata mempunyai penyakit yang cukup berat. Saat itu saya merasa saya orang yang paling tidak beruntung didunia. Saya juga mempertanyakan ke Alloh, kenapa harus dia? kenapa harus saya yang mengalaminya?.

Tapi pada akhirnya toh saya sadar apa yang saya punyai, semua adalah titipan Alloh, meskipun hakikatnya adalah kepunyaan saya. Kita tidak boleh sombong akan sesuatu yang kita punyai, musti banyak bersyukur. tadi saya sampai berfikir” apa saya melakukan sesuatu yang salah?” . Saya masih percaya loh bahwa balasan akan perbuatan kita di dunia, juga bisa terjadi secara nyata. Makanya saya saat ini selalu intropeksi diri, mungkin saya pernah meyakiti orang yang berinteraksi dengan saya.

Intinya hari ini saya mendapat pelajaran: Jangan mencintai benda atau orang yang kita punyai berlebihan, karena hakikatnya semua yang kita miliki di dunia hanyalah semu, semua titipan Tuhan.

Ini renungan singkat saya loh, monggo kalo tidak setuju, selalu terbuka untuk kritik:)

Kira-kira bulan mei tahun lalu, seorang sahabat baik saya memaksa saya untuk membaca buku the secret yang menjadi best seller , bahkan mungkin hingga saat ini, setau saya sampai ada filmnya juga. Bagaimana pikiran kita bisa mengendalikan alam sekitar dengan gaya tarik menarik, kalo ga salah begitu. Saat itu saya sedang meenunggu hasil seleksi akhir pengumuman sebuah beasiswa, ketika teman bertanya jawaban saya selalu negative”paling ga lolos soalnya aku merasa tidak siap”itu adalah jawaban saya pada temen-temen yang bertanya pengumuman. Oleh sebab itu teman saya meyarankan saya membaca buku itu. Ternyata bener saya ga lolos sesuai dengan yang saya pikirkan, ah ini kesimpulan yang terlalu cepat.

Saya adalah orang yang selalu prejudice jika ada buku yang rada ngutip-ngutip kitab suci agama lain. Makanya untuk meyenangkan sahabat saya, buku itu tetap saya bawa dan tidak saya sentuh sama sekali. Sambil saya bergumam dalam hati” percaya koq sama buku the secret, percaya ya sama Alloh-lah”.

Tapi ketika saya membaca sebuah buku tentang ketuhanan”meraih cinta ilahi” . (sedikit cerita sebenarnya buku adalah buku yang akan saya kadokan untuk sahabat terbaik saya, sahabat saya sangat suka buku-buku karya Jalaludin Rahmat, maklum dia sangat suka dengan hal-hal berbau sufi. Meskipun sufiwati tapi dia sangat hoby makan Burger dan ice cream :D . Tapi sewaktu tidak bisa tidur saya sedikit membaca pengantarnya saja, tapi koq penasaran yah akhirnya kebaca juga sebagian besar tema dibuku itu ). Sedikit menambah pemahaman saya dan meyejukkan hati dikala sudah sangat jarang mendapat penguatan secara spiritual.

Namun satu bahasan yang cukup menarik bagi saya dan langsung mengingatkan saya pada buku The Secret. You don’t think what you are; you are what you think (di translate sendiri yah:D). Pikiran bisa menciptakan kenyataan, artinya jika saya berfikir saya pasti gagal maka saya bener-bener akan benar-benar gagal. Psikolog biasanya menyebut ini sebagai konsep diri yang mempengaruhi perilaku seseorang. Kalau dalam buku the secret (saya yakin bener yah padahal Cuma baca sekilas) ini merupakan gaya tarik-menarik antara pikiran kita dengan alam. Nanti deh saya akan membaca lagi buku the secret. Nah jalaludin rahmat memaparkan secara singkat sebuah buku berjudul beyond psikologi, “kita tidak saja bisa menentukan perilaku kita dengan pikiran kita tetapi kita juga bisa menciptakan berbagai peristiwa dialam sekitar kita dengan pikiran kita “ . Sampai disini kalau boleh saya katakan  paparan ini nyaris sama persis dengan pesan yang disampaikan dalam the secret dan saya setuju.

Namun yang membedakan menurut saya, tetap semuanya adalah campur tangan Alloh. Artinya bukan tarik-menarik kita murni dengan alam (sebagaiman the secret) tapi bagaimana pikiran-pikiran kita tertuju pada Alloh , bagaiman usaha kita untuk mendekatkan diri kita pada Alloh dengan pikiran-pikiran kita yang focus pada Alloh SWT. Nah jalan satu-satunya untuk mengendalikan alam sekitar dan kejadian yang kita alami adalah dengan berfikiran positif atau husnuzan terhadap Alloh SWT.

Ketika kita menginginkan sesuatu maka pusatkan bahwa keinginan kita pasti akan tercapai. Dengan kita berfikiran positif maka otomatis kita akan terfokuskan untuk berdoa yang positif juga. Insyaallah keingian kita juga akan tercapai. Jika kita berfikiran negative maka sudah pasti aura negative akan mengacaukan hidup kita. Jadi kita harus melatih diri untuk selalu husnuzan kepada Alloh SWT. Hmmm buku ini benar-benar menginspirasi saya untuk berfikir positif dan meyakini bahwa Alloh pasti mengabulkan semua keinginan kita yang baik dengan tetap selalu menjaga pikiran positif kita dan focus berdoa dan berdzikir meyebut nama-NYA . Kesimpulannya memang pikiran keyakinan kita dengan berfikir positif pasti akan terwujud tapi semua tetep ada campur tangan alloh bukan tarik menarik manusia dengan alam.

Temans mulai sekarang mari biasakan berfikiran positif pada segala sesuatu, makanya sejak saat ini saya berfikiran positif dalam memandang diri saya, saya berfikir positif bahwa saya cantik, pasti semua juga akan berfikir memang saya cantik :p (ups pasti banyak yang tidak setuju hohoho, gppkan mulai berfikiran positif). If you think you are cute, you will be cute :D .

Akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa – peristiwa yang
berkaitan dengan Islam, tampaknya memang sebuah institusi agama yang bernama
Islam sedang mengalami masa-masa sulit untuk tetap bisa menunjukan
eksistensinya sebagai agama terbesar di Negara ini. Bagaimana seharusnya umat
islam sebagai umat mayoritas dapat menyikapi hal ini dengan tetap rasional dan
bijak?

Sengaja saya membuat judul diatas menjadi tampak berurutan dengan berbagai peristiwa yang sedang membuat umat islam terusik. Artinya ada hal – hal yang membuat umat terbesar ini bagaikan bangun dari tidur panjang. Selama ini dengan sebutan umat terbesar dinegara ini semacam membuatnyaman para pemeluknya, sampai akhirnya bermunculan peristiwa-peristiwa
tersebut.

Tulisan ini saya buat untuk sekedar menunjukkan pada dunia tentang wajah islam yang sesungguhnya. Memang ide ini muncul ketika saya membaca The jakarta post ”who playing god” edisi tanggal 31 oktober 2007, disamping itu pernyataan atasan saya yang notabene adalah seorang non muslim yang juga aktifis Ham “mengapa kehadiran ahmadiyah dan al’qiyadah membuat MUI mengeluarkan fatwa sesat dan meyebabkan umat islam marah dan anarkhis bukankah merupakan hak asasi setiap orang bebas berfikir dan beragama? sedangkan ketika jamaah islamiyah/al qaedah melakukan bom bom bunuh diri atas nama jihad mengapa MUI tidak
mengeluarkan fatwa dan umat islam tidak marah? Bukankah ajaran islam tentang jihad identik dengan terorisme?. Beberapa pertanyaan tersebut membuat saya merasa perlu untuk memberikan sedikit sumbangan pemikiran sebagai orang muslim. Hal ini saya pikir ”penting” paling tidak untuk sekedar memberikan gambaran pada dunia bahwa islam itu cinta damai dan penuh
ajaran toleransi.

Pertama kali peristiwa cukup heboh muncul ketika saat itu bermunculan aksi bom bunuh diri, dimulai dari bom bali, bom atrium, bom di kedubes australia dan beberapa tragedi bom lainnya. Ironisnya yang kemudian muncul dipermukaan adalah wajah islam sebagai agama yang menakutkan, bahkan hal ini menjadi isu internasional. Ajaran Islam tentang jihad dianggap sebagai sumber munculnya semua kekacauan ini. Padahal Jihad dalam ajaran islam adalah melakukan segela sesuatu untuk kebaikan bukan justru meyebabkan pembunuhan ataupun apalah sebagiaman yang dilakukan oleh para pelaku bom ditanah air. Tidak ada ajaran dalam islam yang memerintahkan umatnya untuk melakukan kekerasan atau bahkan bom bunuh diri.

Setelah sedikit reda efek dari tragedi bom, kembali umat islam disibukkan dengan adannya aliran Ahmadiyah. Aliran ini mengakui adanya nabi baru dan melakukan amalan ibadah yang berbeda dengan ajaran islam selama ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mempunyai fungsi sebagai pembimbing aqidah umat pun mengeluarkan fatwa sesat, akibatnya muncul tindakan anarkhis terhadap pengikut aliran ini.

Awal bulan rhamadan kembali umat islam dikejutkan dengan adanya aliran al qiyadah, kali ini pun keluar fatwa sesat dari MUI, akibatnya muncul tindakan anarkhis dari kalangan umat yang ada di bawah. Dalam islam sendiri ada penjelasan bahwa islam akan terpecah menjadi 63 golongan, mungkinini pertanda ya………. Sebagai seorang muslim saya juga tidak meyukai kekerasan yang dilakukan atas nama islam dengan merasa diri kelompok yang paling benar dan menghakimi kelompok lain yang dianggap sesat. Bukankah negara kita adalah negara hukum, jika memang al qiyadah sudah melakukan tindakan kriminal maka saya sangat setuiju jika pihak aparat hukum untuk menyelesaikan secara hukum. Jika memang alqiyadah menamakan diri sebagi umat islam, namun tidak mengakui rukun islam dan rukun iman, bukankah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk saling mengingatkan supaya al qiyadah bertaubat dan kembali kejalan yang benar, dengan banyaknya umat islam yang mengikuti ajaran yang meyimpang dari islam, seharusnya kita juga mulai intropeksi diri. Bisa jadi hal ini akibat mulai kikisnya tradisi dakwah diantara umat islam, so what?? Nah mngkin pertanyaan ini bisa menjadi pijakan, lalu apa yang seharusnya umat islam benahi? Tentunya dakwah yang saat ini mulai terkikis penting untuk kembali dilakukan, mungkin bisa dimuali oleh MUI, sehingga MUI tidak hanya mengeluarkan fatwa sesat tapi bagaimana MUI bisa membuat saudara-saudara kita yang dianggap sesat itu kembali kejalan yang benar. Justru jika meeka berada dalam tekanan maka mereka akanterbentuk menjadi militan”ini yang berbahaya”.

Meyikapi kekrasan atas nama agama yang akhir-akhir ini terjadi banyak para aktivis Ham yang berpijak Duham pasal 18 ”Setiap orang berhak atas kemerdekaan berfikir, berkeyakinan dan beragama, hak ini mencakup kebebasan untuk berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan dalam kegiatan pengajaran, peribadatan, pemujaan dan ketaatan, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain di muka umum maupun secara pribadi” untuk melakukan pembelaan.

Namun saya jadi berfikir jika kebebasan ini justru menimbulkan keresahan apakah juga tidak bertentangan dengan sistem negara kita yang merupakan negara hukum? Dengan agak sedikit bertentangan dengan aktivis ham saya justru berfikir memnga benar kebebasan beragama itu harus dilindungi namun jika kebebebasan beragama, berfikir dll tersebut justru dipergunakan untuk tindakan kriminal seperti yang dilakukan al qiyadah tentunnya memang benar tindakan yang sudah dilakukan oleh negara dengan aktif sebagai upaya menjaga ketertiban umum dan penegakan hukum…

Tapi tentunya asalkan hal ini dilakukan dengan batasan
yang wajar……………..

Jakarta,
4 november 2007